Suka Info Misteri? Baca langsung via emailmu. Klik di sini untuk mendaftar!

Asal Muasal Kota Cianjur

Asal Muasal Kota Cianjur

Di daerah Cianjur, Jawa Barat, hiduplah seorang lelaki yang kaya raya. Ia memiliki semua sawah dan ladang yang ada di desanya. Penduduk hanya menjadi buruh tani yang menggarap sawah dan ladang lelaki kaya tersebut. Sayang, dengan kekayaannya, lelaki tersebut menjadi orang yang sangat susah menolong, kekayaannya dia simpan terus menerus hingga banyak, sehingga orang – orang memanggilnya Pak Kikir.

Di daerah tersebut sering mengadakan pesta syukuran, dengan harapan agar panen berikutnya menjadi lebih baik dari panen sebelumnya. Pesta syukuran tersebut dengan jamuan yang hanya ala kadarnya saja, dan jumlah yang tidak mencukupi untuk undangan sehingga banyak undangan yang tidak dapat menikmati jamuan.

Di suatu waktu, di tengah-tengah pesta, datanglah seorang nenek tua, yang menggarapkan sedekah kepada Pak Kikir. Dengan kata – kata terbata-bata sang nenek memohon. Tetapi, Pak Kikir mengusir sang nenek dengan ucapan yang menyakitkan hati. dengan sakit hati sang nenek akhirnya meninggalkan pesta syukuran yang diadakan Pak Kikir.

Sementara itu, karena tidak tega menyaksikan kelakuan ayahnya, anak Pak Kikir mengambil makanan dan memberikannya kepada sang nenek. mendapatkan makanan tersebut sang nenek memakannya dengan lahap, karena perutnya sudah kosong. Sesudah menghabiskan semua makanan tersebut, dia mengucapkan terima kasih dan mendoakan anak Pak Kikir agar menjadi orang yang hidup dengan kemuliaan.

Kemudian dia melanjutkan perjalanannya hingga tibalah di salahsatu bukit yang dekat dengan desa tersebut. Dari atas bukit, dia melihat rumah Pak Kikir yang besar dan megah, dan mengingat apa yang dialaminya, maka kemarahan sang nenek pun kembali.

Pada saat itu juga sang nenek mengucapkan doa agar Pak Kikir yang serakah dan kikir itu mendapat balasan yang setimpal. Lalu, dengan keras sang nenek menancapkan tongkatnya ke tanah kemudian dicabutnya lagi tongkat tersebut. Tiba – tiba , dari tempat tersebut kemudian keluar air yang semakin lama semakin besar dan banyak, dan mengalir tepat ke arah desa Pak Kikir.

Penduduk desa menjadi panik, dan saling berlari ke sana ke mari. Ada yang segera mengambil harta yang dimilikinya, ada yang segera mencari dan mengajak sanak keluarganya untuk mengamankan diri. Melihat kepanikan tersebut, anak Pak Kikir segera menganjurkan para penduduk untuk segera meninggalkan rumah mereka. Dia menyuruh warga untuk meninggalkan segala harta sawah dan ternak mereka untuk lebih mengutamakan keselamatan jiwa masing-masing.

Sementara itu, Pak Kikir yang sangat menyayangi hartanya tidak mau begitu saja pergi ke bukit seperti yang dikatakan anaknya. Dia hanya berfikir tentang hartanya. Dia tidak mau pergi, walaupun air makin lama, makin menenggelamkan segala yang ada di desa tersebut. Ajakan anaknya untuk segera pergi dibalas dengan bentakan dan makian.

Akhirnya anak Pak Kikir meninggalkan. Warga yang selamat sungguh bersedih melihat desanya yang hilang bak ditelan air banjir. Tetapi mereka bersyukur karena masih selamat. Kemudian bersama-sama mereka mencari tempat tinggal baru yang aman. Atas jasa-jasanya, anak Pak Kikirpun diangkat menjadi pemimpin mereka yang baru.

Dengan dipimpin pemimpin barunya, warga bersepakat untuk membagi tanah di daerah baru tersebut untuk digarap masing-masing. Anak Pak Kikirpun mengajarkan mereka menanam padi dan bagaimana caranya menggarap sawah yang kemudian dijadikan sawah tersebut. Warga selalu menuruti anjuran pemimpin mereka, sehingga daerah ini kemudian dinamakan Desa Anjuran.

Desa yang kemudian berkembang menjadi kota kecil inipun kemudian dikenal sebagai Kota Cianjur