Suka Info Misteri? Baca langsung via emailmu. Klik di sini untuk mendaftar!

Misteri Segitiga Bermuda Indonesia

INFOMISTERI.COM – Sebagaimana yang telah di terangkan sebelumnya, bahwa Keberadaan pesawat Malaysia Airlines Boeing 777-200ER dengan nomor penerbangan MH370 akhirnya dipastikan. Namun ada juga spekulasi yang menyebutkan bahwa pesawat tersebut nyasar di Segitiga Bermuda, yang menghubungkan Miami, Bermuda, dan Puerto Rico.

Misteri Segitiga Bermuda Indonesia

Misteri Segitiga Bermuda Indonesia

Namun, tempat itu jauh dari posisi terakhir MH370. Kapasitas bahan bakar Boeing 777-200 yang maksimal 47.380 galon dan daya jelajah terjauh 12.779 km, makin membuat dugaan itu tak masuk di akal.

Selain itu ada pula yang berasumsi bahwa sejatinya ada area misterius serupa yang ada di Benua Asia. Namanya ‘Segitiga Formosa’, segitiga Bermuda di Pasifik. Area yang juga dijuluki Devil’s Sea dan Dragon Triangle itu terletak di perairan antara Jepang, Filipina, dan Taiwan. 

Nah untuk itu, tidak ada salahnya bagi kita untuk sedikit membahas tentang Misteri Segitiga Bermuda yang ada di Indonesia berikut ini. Salah satunya adalah Segitiga Masalembo.

Segitiga Masalembo

Di sebuah titik di perairan Majene, Sulawesi Barat, badan pesawat Adam Air Penerbangan 574 terbaring di dasar laut. Tak satupun dari jasad 102 penumpang dan awak pesawat pernah ditemukan.

Area Segitiga Masalembo

Inilah area yang di duga sebagai Segitiga Masalembo

Boeing 737-4Q8 yang dipiloti Refri A Widodo itu hilang dalam penerbangan dari Surabaya ke Manado saat seluruh dunia merayakan Tahun Baru 1 Januari 2007.

Misteri di mana dan apa yang terjadi pada Adam Air kala itu juga membuat orang berspekulasi. Salah satunya mengenai `Segitiga Masalembo`, wilayah imajiner yang menghubungkan Pulau Bawean, Kota Majene, dan Kepulauan Tengah , tempat Adam Air celaka.

Pesawat milik maskapai yang kini sudah ‘almarhum’ itu bukan satu-satunya ‘korban’. Kapal laut Senopati Nusantara yang nahas pada tanggal 29 Desember 2006 dan KM Tampomas II yang terbakar di laut dan karam pada tanggal 27 Januari 1981, juga terjadi di wilayah yang sama.

Dugaan semacam itu dibantah mentah-mentah oleh penyelidik senior Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Mardjono Siswosuwarno yang menangangi penyelidikan jatuhnya pesawat Adam Air. “Jangan percaya sama mitos, mistis, atau Segitiga Bermuda,” tegas dia.

“(Segitiga Bermuda) nggak ada! Lintas sana itu memang ramai, jadi ada kecelakaan ya lumrah. Soal dugaan ada logam dalam laut, mitos semua. Dan orang-orang suka dibohongi,” tambah dosen ITB jurusan mesin dan penerbangan itu.

Terkait proses penemuan Adam Air yang jauh lebih cepat dari Malaysia Airlines, Profesor Mardjono menerangkan, perbedaan signifikan dua pesawat nahas itu adalah soal petunjuk.

“Yang jelas, rute Adam Air saat itu jelas, ditangkap pula oleh banyak radar. Tujuannya kan Surabaya ke Manado, kemudian radar itu menunjuk ke suatu tempat, nah di situ orang bingung, radar nunjuk ke sini kok pesawatnya nggak ada,” kata dia.

Lalu, intervensi datang dari langit. “Tuhan lantas kasih petunjuk. Ekor pesawat yang namanya elevator, jatuh ke jaringnya nelayan. Ya sudah kalau jatuh di situ yah artinya jatuhnya juga tidak jauh dari situ pula,” kata Mardjono.

Penemuan potongan itu terjadi pada hari ketiga setelah pesawat Adam Air dinyatakan hilang. Dan pada hari kelima muncul puing yang dulunya adalah meja makan pesawat.

Misteri hilangnya Adam Air

Proses penemuan Adam Air jauh lebih cepat dari Malaysia Airlines

 

Menggunakan sonar dan hydrophone untuk menangkap Underwater Locator Beacon (ULB), atau pinger, lokasi pesawat akhirnya diketahui. Di kedalaman sekitar 2.000 meter dari permukaan laut.

Kesimpulan KNKT soal penyebab kecelakaan Adam Air yang dikeluarkan tahun 2008 menyebut soal kombinasi beberapa faktor, termasuk kegagalan kedua pilot dalam intensitas memonitor flight instrument. Khususnya dalam 2 menit terakhir penerbangan. Sama sekali tak menyebut faktor lokasi, apalagi `Segitiga Masalembo`.

Jangankan yang ada di Masalembo, bahkan Segitiga Bermuda tak pernah mendapat pengakuan resmi, tak pernah disebut di peta. Meski sejarah mencatat, ada puluhan kapal dan pesawat yang hilang di sana.

Salah satunya, apa yang terjadi atas Penerbangan 19 pada 5 Desember 1945. Pada jam 14.10 waktu setempat, di bawah komando Letnan Charles Taylor, lima pengebom torpedo TBM Avenger bermesin tunggal keluar dari pangkalan udara Fort Lauderdale. Untuk menjalani latihan rutin.

Sekitar 90 menit setelah lepas landas, Letnan Taylor lewat radio melaporkan, tim tersesat dan kompas tidak berfungsi. “Kami tak tahu, ini di mana,” kata dia.

Selama dua jam kemudian, Letnan Taylor mengarahkan pesawat yang ia kira menuju Miami, namun nyatanya justru mengarah ke Samudera Atlantik. Seluruh armada dan 14 awak pesawat hilang.

Tim penyelamat pun diberangkatkan. Pesawat amfibi berbadan besar dengan mesin ganda dikirim dari pangkalan Banana River di Central Florida. Namun, pesawat itu justru jatuh ke laut ganas. 13 orang penumpangnya tewas seketika.