Suka Info Misteri? Baca langsung via emailmu. Klik di sini untuk mendaftar!

Menurut Ramalan, Gunung Salak Bakal Dikenal dan Dikunjungi Dunia

Gunung Salak Menurut Ramalan, Bakal Dikenal dan Dikunjungi Dunia

Musibah kecelakaan Sukhoi Superjet 100 yang menabrak lereng Gunung Salak di Kabupaten Bogor, 9 Mei 2012, memunculkan kembali berbagai ramalan, mitos, dan legenda lokal yang selama ini kurang diketahui masyarakat luas.

Juru kunci Gunung Salak, Marsya Abdullah, mengisahkan ramalan Gunung Salak di kediamannya di Kampung Pasir Pogor, Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Pria berusia 40 tahun itu berucap, sejak dulu di lingkungannya beredar ramalan yang isinya menyatakan Gunung Salak suatu hari nanti bakal dikenal dunia dan dikunjungi banyak orang.

Ramalan itu bahkan juga mengatakan, kawasan pengapungan Gunung Salak nantinya akan dijadikan landasan pesawat terbang. “Memang ramalan itu tidak merinci secara detail. Namun kejadian jatuhnya pesawat ini membuat Gunung Salak diketahui banyak orang. Beritanya malah sampai ke luar negeri,” kata Marsya.

Belum lagi, lanjutnya, sejumlah landasan helikopter kini benar-benar dibangun di Gunung Salak sebagai bagian dari proses evakuasi. Ramalan soal Gunung Salak yang bakal mendunia ini, menurut Marsya, ia dengar salah satunya dari sang ayah, almarhum Mbah Haji Entong Madrowi.

Selain soal ramalan itu, Marsya juga menceritakan tentang legenda Gunung Salak yang disampaikan secara turun-temurun oleh leluhurnya. Dahulu kala, kata dia, penguasa Gunung Salak berupaya meminang penguasa Gunung Gede Pangrango. Namun pinangan itu gagal karena posisi Gunung Salak yang lebih kecil ketimbang Gunung Gede Pangrango.

Dengan rasa kecewa, lanjut Marsya, pangeran Gunung Salak kemudian bersemedi dan berjanji suatu saat nanti akan kembali lagi untuk meminang putri Gunung Gede Pangrango. Legenda ini, menurut Marsya,dikenal di daerahnya sebagai legenda Eyang Salak.

Kini dengan jatuhnya Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Marsya meminta setiap pengunjung yang datang ke Gunung Salak untuk menjaga sikap dan ucapan mereka. “Ibarat kita bertamu ke rumah orang lain, tentu harus memakai tata krama,” ujarnya.